Rabu, 01 Mei 2019

JURNAL DIRI


Perempuan Bijaksana yang Pembawa Damai

                        Hanya 6 bulan 3 minggu, waktu yang saya butuhkan untuk berada di perut ibu. Saya, Brigita Sonia Irene Jusuf, anak premature yang lahir dan dibesarkan oleh pasangan beretnis Tionghoa – Flores, Yohana dan Sonny. Brigita yaitu nama seorang biarawati di agama Katolik, Sonia yang berarti bijaksana, Irene berarti damai, nama adalah doa, bukan? Saya pun berharap menjadi demikian. Saya dibesarkan dengan cara agama Katolik dan etnis Tionghoa yang disatukan secara tidak langsung, yaitu oleh nenek saya, Genoveva Ong Liem Tjian Nio.
                        Hidup saya dimulai dari kelahiran saya pada 25 Februari 1999 yang cukup menegangkan, yaitu ketika saya dilahirkan sebagai anak premature dan berada di inkubator selama 1 minggu, beruntungnya, saya dapat berkembang seperti anak – anak biasanya. Kehidupan kanak – kanak saya dimulai saat usia 5 tahun yang mulai masuk TK, di TK. Bhayangkari 55 di Asrama Brimob, Bogor. Semasa TK, saya cukup berprestasi, saya mengikuti kejuaraan membaca puisi, dan mendapat juara harapan 1. Saya begitu senang pada masa itu.
                        1 tahun berlalu, saya masuk ke SDN Cibuluh 1 yang berlokasi tepat di depan TK saya itu. Pada masa SD, saya mulai mencoba banyak bidang non-akademis seperti PASKIBRA, paduan suara, teater, dan membaca puisi. Memang saya tidak mengikuti lomba selama 6 tahun tersebut, tetapi ternyata proses perkembangan saya pada masa SD, sangat berpengaruh bagi kehidupan saya saat ini. Menekuni banyak bidang membuat saya menyadari arti penting dari perkembangan diri manusia. Setelah lulus SD, saya seperti menemukan orientasi diri saya, yaitu kepada ranah psikologi. Entah apa yang ada dalam pikiran saya saat itu, tetapi saya berminat di bidang itu.
                        Waktu berlalu, semakin lama saya sadar alasan saya ingin menekuni bidang ini, yaitu karena kehidupan saya pada berbagai tempat, keluarga, sekolah, dan lain sebagainya. Bertemu dengan banyak orang dengan sifat yang berbeda – beda membuat saya ingin mengerti mereka atas apa yang mereka lakukan. Didikan yang keras dari ibu membuat saya berpikir bahwa ada cara yang lebih baik dari didikan yang keras, maka saya mempelajari itu pada psikologi. Pada lain hal, diri saya yang introvert membuat saya kesulitan dalam berkembang, maka saya juga mempelajari itu di psikologi, dan saya dapat berkembang sesuai dengan kenyamanan pada diri saya dan apa adanya.
                        Masa SD pun berlalu, saya mulai memasuki masa pancaroba saya, yaitu berubah menjadi seorang remaja awal yang penuh dengan rasa insecurity yang tinggi dan modal berani, saya masuk ke SMP Katolik yaitu SMP Budi Mulia Bogor pada 2012 dan melanjutkan SMA di tempat yang sama pada 2014, yang notabenenya anak – anak di tempat itu memiliki kecerdasan tinggi dan rasa percaya diri yang tinggi pula. Di tempat itu saya cukup aktif berorganisasi di antaranya OSIS dan PASKIBRA. Perkembangan diri saya saat itu kini membuat saya sadar bahwa kita sebagai manusia dewasa perlu mengasah intelegensi emosional yang kita miliki, karena dengan emosi yang tidak baik, kita hanya merusak suasana dan kepercayaan orang lain kepada kita.
                        Dalam masa remaja pun saya baru diperbolehkan untuk mengenal sosial media, saat itu, saya baru mengenal facebook dan twitter, pada akun twitter saya, saya mengikuti banyak akun psikologi, hal pertama yang saya dapatkan saat itu adalah bahwa manusia memiliki 4 kepribadian dasar, yaitu melankolis, sanguinis, koleris, dan plegmatis. Pada hari – hari selanjutnya, saya semakin menekuni dunia itu.
                        Kemudian pada 2017, saya mengakhiri masa remaja madya saya dan mulai memasuki remaja akhir yang menuju dewasa. Saya masuk ke Universitas Gunadarma Fakultas Psikologi, sesuai minat saya. Juga pada tahun yang sama, saya memasuki organisasi paduan suara Gunadarma, Swara Darmagita Choir dengan suara Alto 1. Saya dengan niat yang kuat ingin menekuni organisasi, karena menurut saya itulah jalan yang dapat membimbing saya untuk bersiap di dunia kerja. Dan saya sangat bersyukur, organisasi ini dapat mengajarkan saya untuk memanage waktu yang saya miliki, tetapi tetap bertanggung jawab akan kuliah saya. Swara Darmagita pun menunjang saya untuk mengenal karakter orang satu per satu dan membantu saya untuk tahu apa yang harus saya lakukan. Kehidupan saya sebenarnya terbilang sulit di sana, tetapi itulah yang saya cari. Kesulitan tersebut membuat saya semakin tertantang untuk melanjutkannya, saat saya berhasil, saya merasa menang.
                        Banyak hal yang telah saya rencanakan setelah lulus S1, saya akan bekerja, kemudian melanjutkan S2 saya. Saya bercita – cita menjadi Psikolog Anak, karena saya merasa begitu penting untuk menjaga mental health seorang anak. Anaklah yang suatu saat nanti akan memegang kontrol akan bangsa ini, begitu berartinya seorang anak di mata saya.
                        Saya juga manusia seni, saya menekuni dunia seni pada perkembangan saya, rencana lain selain menjadi psikolog anak, saya ingin menekuni seni sebagai bentuk terapi dari mereka yang mental health nya kurang baik. Seni berarti kembali pada hakikat manusia sesungguhnya, keunikan, keindahan, dan kesukacitaan. Dengan seni, manusia dapat menyadari bahwa dirinya berharga di mata orang lain dan terlebih di mata Tuhan Yang Maha Esa.
                        10 tahun mendatang, saya merencanakan diri saya sebagai Ibu Rumah Tangga yang baik, juga sebagai pemilik dari sekolah kepribadian, tempat semua orang menjadikan dirinya sebagai sesuatu yang lebih berarti untuk dirinya sendiri dan menjadi versi terbaik dari dirinya. Juga yang terpenting adalah saya akan membahagiakan kedua orang tua dan nenek saya. Dan sebelumnya, saya juga akan menjadi versi terbaik dari diri saya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JURNAL DIRI

Perempuan Bijaksana yang Pembawa Damai                         Hanya 6 bulan 3 minggu, waktu yang saya butuhkan untuk berada di perut ...