Rabu, 11 Oktober 2017



EKSISTENSI BUDAYA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI


BUDAYAKU, DIMANA KAMU?

                        Kata “globalisasi” tentunya bukan hal yang tabu lagi didengar, karena globalisasi secara tidak langsung telah menjamur di dalam kehidupan kita. Komunikasi yang cepat, pemasaran online, bank elektronik, transportasi antar negara, budaya luar negeri yang “keren”, cara berpakaian yang “stylish”, dan hal baru lain yang menyita perhatian mata telah mendominasi sebagian besar otak kita tanpa berpikir panjang. Karena pada dasarnya hal – hal baru tersebut sangat memudahkan kita sebagai makhluk sosial untuk melangsungkan kehidupan yang kompleks ini.
                        Globalisasi juga menghantarkan kita pada kemewahan – kemewahan dunia, sehingga kita selalu dapat terpukau dengan pesonanya itu. Hal ini mau tidak mau akan terjadi, karena semakin hari otak manusia akan berkembang untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan memudahkan hidupnya. Di balik zaman yang berkembang, ada manusia yang semakin pintar dan hebat.
                        Hal yang paling sederhana saja, zaman sekarang manusia tidak perlu berkirim surat untuk menyampaikan suatu pesan, berkirim surat itu digantikan dengan media sosial yang dapat mengirimkan pesan dengan praktis dan cepat, tidak membuang – buang biaya dan waktu. Hanya bermodalkan gadget dan kuota, kita sudah dapat berkiriman pesan dengan orang yang jauh.
                        Dalam hal bertransportasi, kini kita tidak perlu bepergian menggunakan kereta kuda atau seekor keledai seperti zaman dahulu, kita bisa pergi menggunakan pesawat, kereta, mobil, atau motor. Jika kita ingin pergi menggunakan kereta atau pesawat pun kita tidak perlu datang langsung ke stasiun atau bandara, kita bisa dengan praktisnya memesan tiket menggunakan aplikasi pada media online. Ya. Sesingkat dan sepraktis itu.
                        Seiring berkembangnya zaman tersebut, ternyata globalisasi menjadi bumerang sendiri bagi manusia, si makhluk sosial ini. Globalisasi mulai merubah pola pikir dan sikap manusia yang dahulu pernah menjadi manusia seutuhnya. Kini hal yang menjadi perhatian bagi orang – orang yang sadar akan dampak globalisasi adalah “BAGAIMANA CARA MEMANUSIAKAN MANUSIA KEMBALI?”. Bagaimana membuat segala sesuatunya kembali pada esensinya masing – masing, dan berada pada tempatnya kembali.
                        Memang, dunia ini memiliki elemen positif dan negatif, begitu pula dalam hal globalisasi ini. Dampak positif yang telah disebutkan di atas tentunya memberikan kita kenyamanan tersendiri dan membuat kita senang, karena seakan – akan gadget dan hal canggih lainnya telah memberikan apapun yang kita inginkan, kita merasa gadget adalah segalanya untuk kehidupan ini.
                        Namun, pernahkah kita terpikirkan meskipun selintas, bahwa globalisasi ini telah membawa kita untuk meninggalkan apa yang telah dipertahankan dan dikembangkan oleh nenek moyang? Ya. Budaya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Budaya nasional. Budaya lokal kita. Budaya bangsa kita. Darah yang sengaja dialirkan untuk menormalkan kerja jantung NKRI, bahkan sejak nenek moyang masih berperang hanya menggunakan tombak.
                        Pada awalnya globalisasi memang dilahirkan dan dikembangkan oleh negara – negara maju, globalisasi bukan milik negara berkembang seperti NKRI. Maka dari itu, mereka mengambil kesempatan yang telah mereka ciptakan itu untuk mengembangkan dan mengekspos budaya mereka agar dikenal oleh dunia. Hal inilah yang telah diserap oleh orang – orang Indonesia, karena menurut mereka hal – hal yang berasal dari luar negeri adalah hal yang mengacu pada modernisasi dunia, alias “keren”.
                        Dari sekian banyak budaya Indonesia, mungkin tidak mencapai angka 50% budaya yang telah terekspos dengan baik di dunia internasional, yang terkenal hanya  Seni Batik, Tari Saman, Tari Jaipong, Tari Kecak, Wayang Kulit, Angklung, dan Gamelan. Atau tempat wisata yang terkenal hanya Candi Borobudur, Candi Prambanan, Keraton Jogja, Keraton Solo, Taman Komodo, Raja Ampat, dan Pantai – pantai di Bali. Tetapi dunia internasional tidak mengenal budaya lain yang lebih menakjubkan dari itu. Bahkan pernahkah menyangka bahwa anak – anak di Indonesia sekalipun tidak mengenal budaya nya sendiri. Banyak hal yang ditinggalkan bahkan tidak dikenal oleh anak – anak Indonesia seperti permainan tradisional, makanan tradisional, tarian daerah, lagu daerah, alat musik daerah, tempat wisata daerah, bahkan berbahasa daerah mereka sendiri pun, mereka tidak bisa.
                        Mari kita ulik lebih dalam lagi. Manakah yang lebih terkenal pada era sekarang ini? Permainan “Temple Run” atau “Cing Jongkok” ? “Mobile Legends” atau “Cing Bata Tujuh” ? “Arena of Valor” atau “Petak Umpet”? Apakah anak – anak Indonesia yang lahir pada tahun 2005 ke atas masih mengenal permainan – permainan tradisional tersebut? Hal lain seperti makanan tradisional. Anak – anak Indonesia sekarang lebih mengenal “Chicken Nugget” daripada “Ongol - Ongol” dari daerah Jawa Barat, juga lebih mengenal “Chicken Teriyaki dan Spageti” daripada “Papeda” dari Papua. Dalam hal berpakaian pun mereka lebih mengenal “Ripped Jeans” daripada ”Pakaian Pengantin” dari Banten, atau “Payas Agung” dari Bali, bahkan “Serui” dari Papua Barat.
                        Sekarang pun anak – anak lebih memilih menjadi “Cheerleader” atau pemandu sorak, dan “Modern Dance” dari budaya Barat, daripada tari trandisional seperti “Tari Piring” dari daerah Minangkabau dan “Tari Jaipong” dari daerah Jawa Barat. Mereka pun lebih suka mendengarkan lagu Barat seperti “Dive” yang dilantunkan oleh Ed Sheeran daripada mengumpulkan niat untuk sekedar mengenal atau menghafalkan lagu “Es Lilin” dari Jawa Barat , lebih mengenal pula lagu “Attention” yang dilantunkan oleh Charlie Puth daripada lagu “Tandak Sambas” dari Kalimantan Barat.
                        Sekarang pun orang – orang Indonesia lebih bisa bermain gitar daripada angklung, bisa bermain piano tetapi tidak bisa bermain kencrong, bisa bermain saxophone tetapi tidak bisa bermain suling, atau bisa bermain harpa tetapi tidak bisa bermain sasando ataupun kecapi. Tersebar juga di seluruh nusantara tempat – tempat kursus untuk bermain alat musik. Alat musik yang ditawarkan pun hanya gitar, piano, drum, organ, saxophone, sampai harpa. Tetapi pernahkah kalian melihat ada tempat kursus yang menawarkan cara bermain Alat Musik Sasando? Kalaupun ada, lebih berminat belajar alat musik apakah kalian? Apakah banyak orang tua yang mau menghabiskan uangnya untuk memberikan kursus bermain alat musik tradisional Indonesia untuk anaknya? Jawabannya adalah tidak.
                        Saat liburan, tempat yang anak – anak tuju adalah Maldives, tetapi mereka katakan tidak untuk Pulau Pramuka atau Museum Wayang dan Kota Tua. Mereka pun lebih suka ke Universal Studio daripada ke Way Kambas untuk melihat badak bercula satu yang kini keberadaannya hampir punah. Tentunya juga mereka lebih tertarik untuk mengunjungi Disneyland Hongkong daripada ke Raja Ampat  Papua, bukan? Alasannya adalah lebih keren dan lebih bisa dipamerkan kepada teman – temannya lewat sosial media hanya untuk menuai banyak pujian dari orang banyak.
                        Kita telah melihat kasusnya. Masalahnya adalah, orang – orang Indonesia, khususnya remaja semakin lupa identitas dirinya sebagai bangsa Indonesia, yang mereka pikirkan adalah menjadikan budaya Barat sebagai kiblatnya dalam melangsungkan kehidupan mereka sehari – hari. Mereka lebih mengenal budaya Halloween daripada budaya Potong Jari dari Papua, yang dilakukan ketika ada anggota keluarga yang meninggal.
                        Pertanyaannya adalah, siapa yang menjaga budaya kita yang sudah mulai terlupakan? Penjaga museum? Penjaga Keraton? Anak dan cucu Hamengkubuwono? Jawabannya adalah kita semua tanpa terkecuali. Bahkan pernahkah kalian terpikir apa yang akan terjadi dalam 5 tahun mendatang jika kita masih suka acuh terhadap budaya lokal yang terkesan “ketinggalan zaman” ?
                        Gloabalisasi pun kini berpengaruh terhadap perilaku masyarakat yang mengacu pada penghapusan etika kesopanan yang sangat diperhatikan pada awalnya oleh beberapa adat tertentu. Sebagai contoh, saat bermain ke rumah teman dahulu kita datang dan mengetuk pintu, namun berbeda hal dengan saat ini, saat bertamu kita menelpon teman atau mengirim pesan padanya bahwa kita sudah berada di depan pintu rumahnya. Sikap ini menghilangkan etika kesopanan saat bertamu. Lain hal saat dihidangkan makanan saat bertamu, adat Jawa yang sangat sopan dan menyembunyikan maksud / perasaan karena punya sifat yang tidak enakan, tidak akan menyicipi hidangan yang diberikan sebelum dipersilahkan. Namun masih banyakkah orang – orang yang melakukan ini pada saat bertamu?
                        Globalisasi juga telah mengubah masyarakat Indonesia menjadi pribadi yang anti-sosial, yang pada hakikatnya sangat bertentangan dengan kalimat “Manusia adalah makhluk sosial”, sebagai contoh, orang – orang zaman sekarang sudah tidak sopan saat berbicara kepada orang lain, khususnya orang yang lebih tua, mereka menatap handphone mereka ketika sedang berbicara kepada orang lain.  Hal lain pun terjadi ketika masyarakat Indonesia mulai meniru cara berpakaian orang Barat yang modelnya terbuka. Padahal hal - hal tersebut bertentangan dengan budaya dan tata krama yang dipegang teguh oleh adat yang ada di Indonesia tetapi mereka terus melakukannya setiap hari.
                        Jadi pada intinya, eksistensi budaya lokal mengalami beberapa kemunduran, ada yang tidak mengenalnya karena sibuk dengan hal – hal menarik nan modern, ada yang mulai melupakannya karena ada budaya baru yang lebih sedap dipandang mata, dan ada yang masih melihat bahwa budaya Indonesia adalah budaya yang ketinggalan zaman.
                        Sebenarnya budaya Indonesia yang kaya ini tidak ketinggalan zaman, hanya saja keadaan Indonesia yang masih berada dalam status negara berkembang yang menjadikannya dianggap sebagai negara tertinggal, begitu pula pada budaya – budaya nya. Satu – satunya cara yang dapat kita lakukan adalah dengan memperkenalkannya kepada dunia internasional dengan cara apapun sejauh itu baik. Banyak kemungkinan yang dapat kita lakukan, apakah dengan memperkenalkannya kepada dunia internasional lebih dahulu kemudian Indonesia dapat dianggap menjadi negara berkembang yang maju dan kaya. Atau dengan cara memajukan pendidikan Indonesia dan aspek lain yang dominan dan dapat berpengaruh terlebih dahulu, kemudian memperkenalkan budaya Indonesia dan dapat langsung diakui dan diterima di dunia internasional, sama seperti yang negara maju lakukan. Namun cara kedua dapat menghabiskan waktu yang lama meskipun tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan, jadi lebih baik kita memajukan dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia oleh karena budayanya yang kaya dan indah.

JURNAL DIRI

Perempuan Bijaksana yang Pembawa Damai                         Hanya 6 bulan 3 minggu, waktu yang saya butuhkan untuk berada di perut ...