EKSISTENSI
BUDAYA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI
BUDAYAKU, DIMANA KAMU?
Kata
“globalisasi” tentunya bukan hal yang tabu lagi didengar, karena globalisasi
secara tidak langsung telah menjamur di dalam kehidupan kita. Komunikasi yang
cepat, pemasaran online, bank elektronik, transportasi antar negara, budaya
luar negeri yang “keren”, cara berpakaian yang “stylish”, dan hal baru lain
yang menyita perhatian mata telah mendominasi sebagian besar otak kita tanpa
berpikir panjang. Karena pada dasarnya hal – hal baru tersebut sangat
memudahkan kita sebagai makhluk sosial untuk melangsungkan kehidupan yang
kompleks ini.
Globalisasi
juga menghantarkan kita pada kemewahan – kemewahan dunia, sehingga kita selalu
dapat terpukau dengan pesonanya itu. Hal ini mau tidak mau akan terjadi, karena
semakin hari otak manusia akan berkembang untuk menghasilkan sesuatu yang baru
dan memudahkan hidupnya. Di balik zaman yang berkembang, ada manusia yang
semakin pintar dan hebat.
Hal yang paling
sederhana saja, zaman sekarang manusia tidak perlu berkirim surat untuk
menyampaikan suatu pesan, berkirim surat itu digantikan dengan media sosial
yang dapat mengirimkan pesan dengan praktis dan cepat, tidak membuang – buang
biaya dan waktu. Hanya bermodalkan gadget dan kuota, kita sudah dapat
berkiriman pesan dengan orang yang jauh.
Dalam hal
bertransportasi, kini kita tidak perlu bepergian menggunakan kereta kuda atau
seekor keledai seperti zaman dahulu, kita bisa pergi menggunakan pesawat,
kereta, mobil, atau motor. Jika kita ingin pergi menggunakan kereta atau
pesawat pun kita tidak perlu datang langsung ke stasiun atau bandara, kita bisa
dengan praktisnya memesan tiket menggunakan aplikasi pada media online. Ya.
Sesingkat dan sepraktis itu.
Seiring
berkembangnya zaman tersebut, ternyata globalisasi menjadi bumerang sendiri
bagi manusia, si makhluk sosial ini. Globalisasi mulai merubah pola pikir dan
sikap manusia yang dahulu pernah menjadi manusia seutuhnya. Kini hal yang menjadi
perhatian bagi orang – orang yang sadar akan dampak globalisasi adalah
“BAGAIMANA CARA MEMANUSIAKAN MANUSIA KEMBALI?”. Bagaimana membuat segala
sesuatunya kembali pada esensinya masing – masing, dan berada pada tempatnya
kembali.
Memang,
dunia ini memiliki elemen positif dan negatif, begitu pula dalam hal
globalisasi ini. Dampak positif yang telah disebutkan di atas tentunya
memberikan kita kenyamanan tersendiri dan membuat kita senang, karena seakan –
akan gadget dan hal canggih lainnya telah memberikan apapun yang kita inginkan,
kita merasa gadget adalah segalanya untuk kehidupan ini.
Namun,
pernahkah kita terpikirkan meskipun selintas, bahwa globalisasi ini telah
membawa kita untuk meninggalkan apa yang telah dipertahankan dan dikembangkan
oleh nenek moyang? Ya. Budaya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Budaya
nasional. Budaya lokal kita. Budaya bangsa kita. Darah yang sengaja dialirkan
untuk menormalkan kerja jantung NKRI, bahkan sejak nenek moyang masih berperang
hanya menggunakan tombak.
Pada
awalnya globalisasi memang dilahirkan dan dikembangkan oleh negara – negara
maju, globalisasi bukan milik negara berkembang seperti NKRI. Maka dari itu,
mereka mengambil kesempatan yang telah mereka ciptakan itu untuk mengembangkan
dan mengekspos budaya mereka agar dikenal oleh dunia. Hal inilah yang telah
diserap oleh orang – orang Indonesia, karena menurut mereka hal – hal yang
berasal dari luar negeri adalah hal yang mengacu pada modernisasi dunia, alias
“keren”.
Dari
sekian banyak budaya Indonesia, mungkin tidak mencapai angka 50% budaya yang
telah terekspos dengan baik di dunia internasional, yang terkenal hanya Seni Batik, Tari Saman, Tari Jaipong, Tari
Kecak, Wayang Kulit, Angklung, dan Gamelan. Atau tempat wisata yang terkenal
hanya Candi Borobudur, Candi Prambanan, Keraton Jogja, Keraton Solo, Taman
Komodo, Raja Ampat, dan Pantai – pantai di Bali. Tetapi dunia internasional
tidak mengenal budaya lain yang lebih menakjubkan dari itu. Bahkan pernahkah
menyangka bahwa anak – anak di Indonesia sekalipun tidak mengenal budaya nya
sendiri. Banyak hal yang ditinggalkan bahkan tidak dikenal oleh anak – anak
Indonesia seperti permainan tradisional, makanan tradisional, tarian daerah,
lagu daerah, alat musik daerah, tempat wisata daerah, bahkan berbahasa daerah
mereka sendiri pun, mereka tidak bisa.
Mari
kita ulik lebih dalam lagi. Manakah yang lebih terkenal pada era sekarang ini?
Permainan “Temple Run” atau “Cing Jongkok” ? “Mobile Legends” atau “Cing
Bata Tujuh” ? “Arena of Valor”
atau “Petak Umpet”? Apakah anak –
anak Indonesia yang lahir pada tahun 2005 ke atas masih mengenal permainan –
permainan tradisional tersebut? Hal lain seperti makanan tradisional. Anak –
anak Indonesia sekarang lebih mengenal “Chicken
Nugget” daripada “Ongol - Ongol”
dari daerah Jawa Barat, juga lebih mengenal “Chicken Teriyaki dan Spageti”
daripada “Papeda” dari Papua. Dalam
hal berpakaian pun mereka lebih mengenal “Ripped
Jeans” daripada ”Pakaian Pengantin”
dari Banten, atau “Payas Agung” dari Bali, bahkan “Serui” dari Papua Barat.
Sekarang
pun anak – anak lebih memilih menjadi “Cheerleader”
atau pemandu sorak, dan “Modern Dance”
dari budaya Barat, daripada tari trandisional seperti “Tari Piring” dari daerah Minangkabau dan “Tari Jaipong” dari daerah Jawa Barat. Mereka pun lebih suka mendengarkan
lagu Barat seperti “Dive” yang dilantunkan oleh Ed
Sheeran daripada mengumpulkan niat untuk sekedar mengenal atau menghafalkan
lagu “Es Lilin” dari Jawa Barat ,
lebih mengenal pula lagu “Attention”
yang dilantunkan oleh Charlie Puth daripada lagu “Tandak Sambas” dari Kalimantan Barat.
Sekarang
pun orang – orang Indonesia lebih bisa bermain gitar daripada angklung, bisa
bermain piano tetapi tidak bisa bermain kencrong, bisa bermain saxophone tetapi
tidak bisa bermain suling, atau bisa bermain harpa tetapi tidak bisa bermain
sasando ataupun kecapi. Tersebar juga di seluruh nusantara tempat – tempat
kursus untuk bermain alat musik. Alat musik yang ditawarkan pun hanya gitar,
piano, drum, organ, saxophone, sampai harpa. Tetapi pernahkah kalian melihat ada
tempat kursus yang menawarkan cara bermain Alat Musik Sasando? Kalaupun ada,
lebih berminat belajar alat musik apakah kalian? Apakah banyak orang tua yang
mau menghabiskan uangnya untuk memberikan kursus bermain alat musik tradisional
Indonesia untuk anaknya? Jawabannya adalah tidak.
Saat
liburan, tempat yang anak – anak tuju adalah Maldives, tetapi mereka katakan
tidak untuk Pulau Pramuka atau Museum Wayang dan Kota Tua. Mereka pun lebih
suka ke Universal Studio daripada ke Way Kambas untuk melihat badak bercula
satu yang kini keberadaannya hampir punah. Tentunya juga mereka lebih tertarik
untuk mengunjungi Disneyland Hongkong daripada ke Raja Ampat Papua, bukan? Alasannya adalah lebih keren
dan lebih bisa dipamerkan kepada teman – temannya lewat sosial media hanya
untuk menuai banyak pujian dari orang banyak.
Kita
telah melihat kasusnya. Masalahnya adalah, orang – orang Indonesia, khususnya
remaja semakin lupa identitas dirinya sebagai bangsa Indonesia, yang mereka
pikirkan adalah menjadikan budaya Barat sebagai kiblatnya dalam melangsungkan
kehidupan mereka sehari – hari. Mereka lebih mengenal budaya Halloween daripada
budaya Potong Jari dari Papua, yang dilakukan ketika ada anggota keluarga yang
meninggal.
Pertanyaannya
adalah, siapa yang menjaga budaya kita yang sudah mulai terlupakan? Penjaga
museum? Penjaga Keraton? Anak dan cucu Hamengkubuwono? Jawabannya adalah kita
semua tanpa terkecuali. Bahkan pernahkah kalian terpikir apa yang akan terjadi
dalam 5 tahun mendatang jika kita masih suka acuh terhadap budaya lokal yang
terkesan “ketinggalan zaman” ?
Gloabalisasi
pun kini berpengaruh terhadap perilaku masyarakat yang mengacu pada penghapusan
etika kesopanan yang sangat diperhatikan pada awalnya oleh beberapa adat
tertentu. Sebagai contoh, saat bermain ke rumah teman dahulu kita datang dan
mengetuk pintu, namun berbeda hal dengan saat ini, saat bertamu kita menelpon
teman atau mengirim pesan padanya bahwa kita sudah berada di depan pintu
rumahnya. Sikap ini menghilangkan etika kesopanan saat bertamu. Lain hal saat
dihidangkan makanan saat bertamu, adat Jawa yang sangat sopan dan
menyembunyikan maksud / perasaan karena punya sifat yang tidak enakan, tidak akan menyicipi hidangan yang diberikan sebelum
dipersilahkan. Namun masih banyakkah orang – orang yang melakukan ini pada saat
bertamu?
Globalisasi
juga telah mengubah masyarakat Indonesia menjadi pribadi yang anti-sosial, yang
pada hakikatnya sangat bertentangan dengan kalimat “Manusia adalah makhluk
sosial”, sebagai contoh, orang – orang zaman sekarang sudah tidak sopan saat
berbicara kepada orang lain, khususnya orang yang lebih tua, mereka menatap
handphone mereka ketika sedang berbicara kepada orang lain. Hal lain pun terjadi ketika masyarakat
Indonesia mulai meniru cara berpakaian orang Barat yang modelnya terbuka.
Padahal hal - hal tersebut bertentangan dengan budaya dan tata krama yang
dipegang teguh oleh adat yang ada di Indonesia tetapi mereka terus melakukannya
setiap hari.
Jadi
pada intinya, eksistensi budaya lokal mengalami beberapa kemunduran, ada yang
tidak mengenalnya karena sibuk dengan hal – hal menarik nan modern, ada yang
mulai melupakannya karena ada budaya baru yang lebih sedap dipandang mata, dan
ada yang masih melihat bahwa budaya Indonesia adalah budaya yang ketinggalan
zaman.
Sebenarnya
budaya Indonesia yang kaya ini tidak ketinggalan zaman, hanya saja keadaan
Indonesia yang masih berada dalam status negara
berkembang yang menjadikannya dianggap sebagai negara tertinggal, begitu
pula pada budaya – budaya nya. Satu – satunya cara yang dapat kita lakukan
adalah dengan memperkenalkannya kepada dunia internasional dengan cara apapun
sejauh itu baik. Banyak kemungkinan yang dapat kita lakukan, apakah dengan
memperkenalkannya kepada dunia internasional lebih dahulu kemudian Indonesia
dapat dianggap menjadi negara berkembang yang maju dan kaya. Atau dengan cara
memajukan pendidikan Indonesia dan aspek lain yang dominan dan dapat
berpengaruh terlebih dahulu, kemudian memperkenalkan budaya Indonesia dan dapat
langsung diakui dan diterima di dunia internasional, sama seperti yang negara
maju lakukan. Namun cara kedua dapat menghabiskan waktu yang lama meskipun
tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan, jadi lebih baik kita memajukan dan
mengharumkan nama Indonesia di mata dunia oleh karena budayanya yang kaya dan
indah.